2 minggu telah berlalu, julian mulai terbiasa dengan pedang nya. selama 2 minggu terakhir ini julian selalu berlatih dengan pedang nya, mulai dari push up sampai lari menanjak gunung. Ia selalu ditemani oleh pedang nya. dan sekarang ia sudah bisa berburu dengan pedang nya yang sangat besar itu.
“Bagaimana? Sudah terbiasa dengan pedang itu?” tanya octavian.
“Ya, lumayan. Walau saat pertama badan terasa sakit semua” jawab julian.
“Itu wajar, karena kau terlalu cepat untuk memegang pedang itu. Harus nya kau latihan fisik selama 3 bulan agar kau bisa memegang pedang itu. Aku sengaja mempercepatnya karena besok kita akan belajar memburu monster, benar benar monster. Tapi hanya monster kecil dan jangan remehkan mereka, walau mereka masuk kelas monster kecil bukan berarti ukuran tubuh mereka kecil. Tidak semua, tapi ada juga yang kecil” ucap octavian memberitahu julian tentang praktek besok.
“Apa aku benar benar akan bertemu dengan monster? Apa maksudmu dengan ‘tidak semua, tapi ada juga yang kecil?” tanya julian tidak percaya dan tidak mengerti.
“Satu, ya kau akan benar benar merasakan gulat yang sebenarnya dengan monster sungguhan, bukan dengan hewan liar” jawab octavian. “Dua, maksudku monster berkategori kecil bukanlah soal ukuran badan, tapi kekuatan. Jadi monster berkategori kecil ada yang memiliki ukuran tubuh yang besar dan kecil. Mereka bervariasi”
“Oh, begitu rupanya” ucap julian mengerti.
“Baiklah, sekarang kamu boleh pulang” ujar gurunya.
“Tapikan sekarang masih sore, mataharipun belum tenggelam” ucap julian menolak ucapan gurunya.
“Kau pasti perlu kekuatan ekstra untuk latihan besok, dan kita akan hidup di alam bebas selama beberapa hari sampai kau bisa membunuh 10 monster dan jangan lupa untuk mengambil apapun yang ada di tubuh monster itu, karena kebanyakan dari kereka memiliki bahan bahan yang sangat berguna untuk dibuat peralatan perang” ucap gurunya memberitahu julian kalau ia benar benar harus harus beristirahat untuk besok.
“Baiklah, aku pulang” ucap julian. Sesampainya dirumah julian langsung tidur terlelap tanpa makan malam.
***
“Fiora ini untuk mu” ucap gurunya fiora.
“Apa ini?”tanya fiora.
“Buka saja”
Kemudian fiora membuka bungkusan yang diberikan gurunya. Fiora terkejut saat melihat apa yang diberikan gurunya.
“Apa ini serius? Busur ini untukku?” tanya fiora meyakinkan.
“Tentu saja, dan besok kita akan latihan di gunung, kita akan latihan memburu monster. Aku akan membantumu” jawab gurunya.
“Latihan di gunung lagi? Asik! Itu adalah latihan yang sangat menyenangkan” ucap fiora gembira.
“Tapi bagaimana dengan ricky dan auren? Mereka tidak mendapatkan senjata sepertiku?” tanya fiora lagi.
“Tentu saja mereka sudah mendapatkan nya lebih dulu, saat kau sakit beberapa hati itu. Mereka sudah mendapatkan nya, dan besok kita akan berburu monster bersama” jawab guru fiora.
“Kenapa guru tidak menitipkan ini pada mereka?” tanya fiora sedikit kesal.
Serentak semuanya tertawa.
Fiora makin cemberut karena di tertawakan oleh taman nya.
“Lebih baik kalian segera pulang dan istirahat untuk besok” ucap gurunya menyarankan agar murid nya segera pulang.
Mereka mengangguk dan segera pulang.
Dijalan fiora dan 2 teman nya membicarakan banyak hal, dari membayangkan bagaimana monster yang akan mereka buru sampai mereka membayangkan betapa kuat nya mereka ketika melawan monster monster itu.
“Fiora kau mau makan bersama kami? Kira belum pernah makan bersama. Apa kau mau?” ajak ricky. Karena selama ini setelah mereka latihan mereka langsung pulang kerumah mereka masing masing tanpa berkumpul bersama.
“Aku mau, tapi ibuku pasti sudah masak di rumah jadi aku akan merasa bersalah jika aku tidak memakan masakannya. Maaf aku tidak bisa ikut bersama kalian” jawab fiora. Fiora masih berumur 10 tahun adalah hal yang wajar jika ia menolak ajakan teman nya. umur teman nya setara dengan kakak nya, 14 tahun.
“Oh, baiklah aku mengerti” ucap ricky. “Andai saja orangtua ku masih hidup, pasti aku juga akan makan dirumah”
“Maaf, bukan maksudku...”
“Tidak, ini bukan kesalahan mu. Aku hanya mengenang mereka yang meninggal dengan gagah berani meski jasad ayahku sampai sekarang masih belum ditemukan. Jasad nya hilang begitu saja” sanggah ricky.
“Fiora, kau lebih baik segera pulang sebelum hari benar benar gelap” ujar auren.
“Baiklah, aku pulang duluan ya” pamit fiora.
Ricky dan auren mengangguk.
Kemudian fiora berlari dengan panah ditangannya.
“Kalau begitu, kita hanya makan berdua lagi” ucap ricky.
“Ya, bagaimana lagi. Kita tidak bisa memaksa dia. Dia anak yang baik dan juga berbakat, diumur nya yang masih muda ia bisa menyetarai kita dan lolos ujian masuk meski sebenarnya umurnya dilarang oleh akademi. Tapi ia bisa membuktikan kalau ia bisa mengikuti semua kegiatan yang ada di akademi” ujar auren.
"Ya, kau benar" ucap ricky. “Ayo kita makan bersama” ajak ricky.
Auren tersenyum dan mengangguk setuju.
***
Tunggu kelanjutan ceritanya ya! silakan beri kritik dan saran supaya saya lebih baik dalam menulis. Thanks ^_^

0 comments:
Post a Comment